Agum Gumelar: Ada Kelompok Purnawirawan ‘Die Hard’, Rela Mati demi Prabowo

Agum Gumelar: Ada Kelompok Purnawirawan ‘Die Hard’, Rela Mati demi Prabowo

172jk.com – Bekas Danjen Kopassus, Agum Gumelar menjelaskan ada barisan purnawirawan yang ikhlas berkorban untuk capres (calon presiden) 02, Prabowo Subianto.

Hal tersebut dikemukakan Agum Gumelar waktu menyikapi tindakan keonaran 21-22 Mei di beberapa titik di Jakarta.

Awalnya Agum Gumelar mengutarakan jika ada dua barisan purnawirawan yang turut ada dalam barisan simpatisan tim 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

“Purnawirawan yang memberi dukungan 02, saya pikir ada dua barisan sebenarnya,” tutur Agum Gumelar pada Kompas TV, Kamis (30/5/2019).

Dia menjelaskan, ada barisan purnawirawan die hard yang ikhlas mati untuk Prabowo ada juga barisan yang sesuai kenyataan.

“Jika saya lihat ya, ada yang memang die hard berarti mati juga siap untuk Prabowo kurang lebih demikian,” jelas Agum Gumelar.

“Tapi saya lihat ada yang sesuai kenyataan, ada yang logika,” paparnya.

Agum Gumelar menjelaskan jika hal tersebut adalah sisi dari konstestasi demokrasi.

“Jadi banyak antara mereka yang setelah itu lihat satu kenyataan politik, fakta politik, ini kan kontes demokrasi,” tandas Agum Gumelar.

Didapati awalnya, ada dua purnawirawan yang diputuskan jadi terduga pasca-pemilu 2019.

Diambil dari Kompas.com, bekas Kepala Staf Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat Mayjen TNI (Purn) Kivlan Zen diputuskan jadi terduga, Rabu (29/5/2019).

Kivlan Zen diputuskan jadi terduga atas sangkaan makar serta penebaran berita bohong.

Tidak hanya dakwaan makar serta penebaran hoax, Kivlan Zen dimaksud ikut serta dalam pemilikan senjata ilegal.

Diambil dari siaran KompasTV, penyidik putuskan meredam Kivlan Zen berkaitan masalah sangkaan pemilikan senjata api ilegal, Rabu (30/5/2019).

Menurut pengacara Kivlan Zen, Suta Widhya, client-nya itu akan dipindahkan ke Rutan Guntur, untuk meneruskan mekanisme hukum yang berlaku.

Masalah yang disangkakan yakni Undang-Undang Nomer 1 Tahun 1946 mengenai KUHP Masalah 14 an/atau Masalah 15, Undang-Undang Nomer 1 Tahun 1946 mengenai KUHP Masalah 107 jo Masalah 110 jo Masalah 87 serta/atau Masalah 163 jo Masalah 107.

Sesaat bekas Danjen Kopassus Mayjen TNI (Purn) Soenarko telah terlebih dulu diputuskan jadi terduga atas masalah pemilikan senjata api ilegal.

Soenarko jalani waktu tahanan di Rumah Tahanan Militer Guntur.

Baca Juga : Soal Peluang AHY dan Sandiaga Uno Jadi Menteri, Jokowi: Kenapa Tidak?

Dikabarkan oleh Kompas.com, polisi sudah ungkap tiga barisan penumpang gelap yang tunggangi tindakan unjuk rasa menampik hasil pemilihan presiden di muka Bawaslu pada 21- 22 Mei.

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Muhammad Iqbal menjelaskan, barisan pertama ialah mereka yang berupaya selundupkan senjata api ilegal dari Aceh.

Senjata ilegal itu diantaranya type M4 Carbine tersebut dua buah magasin, peredam suara, tali sandang, serta tas senjata.

Ada juga senpi sejenis Revolver serta Glock bersama 50 butir peluru.

Barisan yang berupaya selundupkan senpi ilegal itu menyertakan bekas Danjen Kopassus Mayor Jenderal TNI (Purn) Soenarko.

“Diantaranya barisan yang tempo hari masukkan senjata ilegal dari Aceh,” kata Iqbal di kantor Kementerian Koordinator Bagian Politik, Hukum, serta Keamanan, Jakarta, Senin (27/5).

Barisan ke-2 ialah mereka yang disangka sisi dari barisan teroris.

Barisan ke-2 ini tersingkap sesudah polisi menyelamatkan dua orang pengacau dalam tindakan unjuk rasa yang mempunyai afiliasi dengan barisan pro Negara Islam Irak serta Suriah, ISIS.

Polisi menyebutkan ke-2 orang pengacau itu adalah anggota organisasi Pergerakan Reformasi Islam (Garis).

Mereka punya niat berjihad pada tindakan tanggal 21-22 Mei 2019.

“Beberapa pelakunya telah mengemukakan jika ingin manfaatkan momen demokrasi jadi tindakan, sebab memang demokrasi itu menurut mereka itu pahamnya kafir,” kata Iqbal.

Barisan paling akhir yang disangka ingin tunggangi tindakan 21-22 Mei 2019 ialah mereka yang berusaha membuat pembunuhan pada empat tokoh nasional serta seseorang pimpinan instansi survey.

Barisan ini sempat juga masuk di kerumunan massa dengan bawa senjata api.

Dari barisan paling akhir, polisi sudah menyelamatkan enam orang terduga, yaitu HK, AZ, IR, TJ, AD, serta HF.

Iqbal menjelaskan, masih terbuka kesempatan terdapatnya barisan lain yang ingin tunggangi tindakan 21-22 Mei 2019. Akan tetapi, polisi terus menginterogasi kehadiran mereka.

“Bisa jadi ada banyak ini penumpang-penumpang gelap. Nantikan saja kelak, team sedang kerja,” katanya.

Tidak hanya tiga barisan itu, polisi sudah menyelamatkan 42 orang yang disangka jadi pengacau dalam tindakan 21-22 Mei 2019.

Polisi masih cari keterikatan di antara ke-3 barisan penunggang tindakan dengan beberapa pengacau itu.