Usahanya Tutup Setelah 10 Tahun, Pemilik Warung Lesehan yang Viral Kesal: ‘Pembelinya Tak Tahu Terima Kasih

Usahanya Tutup Setelah 10 Tahun, Pemilik Warung Lesehan yang Viral Kesal: ‘Pembelinya Tak Tahu Terima Kasi

172jk.com – Walau sebenarnya mereka telah berjualan sepanjang 10 tahun.

Pemiliknya akui jengkel sebab konsumen tidak tahu terima kasih.

Pada curhatannya, Dia memaparkan semua insiden sebetulnya dari narasi yang telah viral itu.

Tersebut informasi sedetailnya.

Telah Sudah sempat Viral 2-3 Tahun yang Lalu

Pemilik warung lesehan di Tegal mencurahkan perasaannya selesai upayanya jadi viral.

Sepanjang 10 tahun berjualan, Anny, pemilik warung lesehan telah alami 2x viral tetapi kesempatan ini mengakibatkan yang kronis.

Anny akui jengkel pada konsumen yang memviralkan warungnya sebab telah memotong separuh harga.

Diambil dari Kompas.com, warung lesehan di Tegal tiba-tiba viral sebab harga nya dipandang tidak lumrah serta begitu mahal untuk satu warung kaki lima.

Awalnya, seseorang konsumen merintih di sosial media sebab harus membayar harga Rp 700.000 sesudah beli makanan untuk bagian dua orang.

Tidak pelak, harga fenomenal ini membuat warung di Tegal itu menjadi cibiran netizen. Warung di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, itu bukan restoran.

Warung yang bernama Lamongan Indah Lesehan Bu Anny ialah warung lesehan biasa yang berada di tepi Jalan HOS Cokroaminoto, Kecamatan Slawi, Kabupaten Tegal.

Memiliki jarak seputar 100 mtr. mengarah timur dari Perempatan PLN, Jalan Ahmad Yani, Kecamatan Slawi.

Karena viralnya posting itu di Facebook, warung yang berdekatan dengan Kantor Kecamatan Slawi itu sekarang begitu sepi.

Sesudah viral sebab dipandang kemahalan, pemilik warung lesehan Bu Anny pada akhirnya membuka suara.

Baca Juga : Agum Gumelar: Ada Kelompok Purnawirawan ‘Die Hard’, Rela Mati demi Prabowo

“Walau sebenarnya telah kami potong 1/2 harga nya, justru tidak paham terima kasih. Seumpama konsumen itu membayar totol Rp 700.000 baru saya tulus dirasakan di media sosial.”

“Permasalahannya, ia telah dipotong harga nya tetapi justru semacam itu,” kata Anny semakin jengkel.

Karena sangat sepinya, warung yang mulai membuka setelah magrib itu baru melayani satu pemberli sampai jam 20.22, Rabu (22/5/2019).

Tribun Jateng juga mencari lebih jauh serta menjumpai langsung sang pemilik warung bernama Anny (42), masyarakat asal Malang, Jawa Timur.

Diakuinya cuma dapat berpasrah diri terima beberapa kecaman sebab dipandang ‘menembak harga’ di momen-momen tersendiri, seperti musim mudik Lebaran sekarang ini.

“Ya, saya mah pasrah. Saya telah 10 tahun jualan di sini. Pada 2-3 tahun kemarin sudah sempat viral seperti gini , tetapi saya masih jaga harga itu sebab ada rupa ada harga,” cetus Anny dibarengi suaminya, Sopikhin pada Tribunjateng.com.

Ia membetulkan jika masakan serta dagangan yang dijualnya mahal, lebih masakan seafood.

Anny mengaku beberapa bahan yang dibelinya tidak asal-asalan alias berkualitas super.

“Ada rupa, ada harga. Kami bisa kepiting dari pasar saja harga nya dapat Rp 175.000 sampai Rp 225.000 per kg,”

“Kami gunakan type kepiting telur serta udang windu yang populer besar-besar. Semua fresh, beberapa barang dari laut,” sebut Anny.

Setelah itu Anny biasa beli type udang windu besar di market seharga Rp 150.000 per kg.

Ia mendapatkan barang-barnag itu di Pasar Cinde, Kecamatan Tegal Barat, Kota Tegal.

“Jika dari pasarnya saja mahal, ya jelas kami akan jual mahal. Ini aneh saja, saya telah sekian tahun jual di sini. Tetapi justru baru viral bahkan juga dihujat belakangan ini,” Anny sayangkan.

Disinggung posting viral yang diupload pada Selasa (28/5/2019), ia begitu sayangkan sikap konsumen.

Ia menceritakan, konsumen itu beli beragam macam seafood seperti udang, cumi, serta kepiting untuk bagian dua orang.

Waktu itu, suami Anny menyajikan masakan udang winsu, kepiting telur, serta cumi yang dilihatnya besar-besar untuk bagian dua orang.

Selesai melahap serta akan bergerak, Anny mengalkulasi keseluruhan harga yang perlu dibayar konsumen yaitu sebesar Rp 700.000.

“Kepiting yang kami sajikan itu beratnya sampai 2 kg hingga harga nya sesuaikan berat barang. Tetapi, konsumen tidak punyai uang sekitar itu. Pada akhirnya kami potong untuk membayar Rp 300.000 saja,” narasi Anny.

Singkat kata, pengalaman konsumen itu lalu di-publish ke Facebook sampai pada akhirnya viral di media sosial.

“Walau sebenarnya telah kami potong 1/2 harga nya, justru tidak paham terima kasih. Seumpama konsumen itu membayar keseluruhan Rp 700.000, baru saya tulus dirasakan di media sosial.”

“Permasalahannya, ia telah dipotong harga nya tetapi justru semacam itu,” katakan Anny semakin jengkel. Dari viralnya warung ini, diakuinya sudah sempat dikunjungi serta diminta info oleh dinas berkaitan.

Dari viralnya warung ini, diakuinya sudah sempat dikunjungi serta diminta info oleh dinas berkaitan.

Kata Anny, dinas berkaitan sudah hadir atas petunjuk Bupati Tegal yang ingin tahu mengetahui ihwal viralnya insiden ini.

“Satpol PP siang tadi hadir. Tetapi, kami masih tekankan ‘ada rupa, ada harga’.”

“Dari dulu, kami memang jual pada harga segini. Kami tidak main tembak harga seperti yang disangkakan orang,” tegasnya.